Nationalgeographic.co.id—Kisah tentang dinosaurus sering diwakili oleh predator raksasa yang agresif dan mudah dikenali. Namun, jauh sebelum nama nama populer itu dikenal luas, Megalosaurus telah lebih dulu membuka pintu pemahaman manusia tentang kehidupan prasejarah.
Ia tidak menonjol karena keunikan bentuk atau reputasinya sebagai pemburu legendaris, melainkan karena perannya sebagai dinosaurus pertama yang berhasil diidentifikasi secara ilmiah, pada masa ketika para ilmuwan bahkan belum memiliki konsep tentang apa itu dinosaurus.
Lantas, bagaimana kisah awal penemuan Megalosaurus hingga mampu mengubah cara manusia memahami dunia purba?
Dilansir laman Discover Magazine, Megalosaurus diketahui hidup di wilayah yang kini menjadi Britania Raya pada Jura Tengah, sekitar 168 juta hingga 165 juta tahun lalu. Ia merupakan theropoda pemakan daging dengan panjang tubuh sekitar 6 hingga 9 meter.
Berdasarkan penemuan fosil awal, dinosaurus ini sempat diperkirakan mencapai panjang 20 meter. Namun, ukuran sebenarnya berada di batas bawah kelompok theropoda besar yang hidup pada Periode Kapur akhir.
Menurut Emma Nicholls, Collections Manager of Vertebrate Palaeontology di Oxford University’s Museum of Natural History, Megalosaurus kemungkinan merupakan “pemburu lincah yang berjalan dengan dua kaki.”
“Meski hewannya sendiri tidak memberikan temuan ilmiah yang benar-benar radikal, Megalosaurus sangat penting dari sudut pandang sejarah,” kata Nicholls, seperti dikutip dari laman Discover Magazine. “Ia dinamai pada masa ketika kata dinosaurus bahkan belum ada.”
Pada abad ke-19, Megalosaurus merupakan salah satu dari tiga hewan yang menjadi dasar pembentukan kelompok Dinosauria yang kini terkenal. Sejumlah penemuan fosil menceritakan perjalanan Megalosaurus dan bagaimana pentingnya spesies ini terus berkembang seiring waktu.
1. 1676-an: Fosil Misterius
Penemuan pertama Megalosaurus dapat ditelusuri hingga tahun 1676, ketika para pekerja menemukan sebuah fosil di tambang Stonesfield, lokasi penting dalam kisah Megalosaurus. Fosil tersebut kemudian sampai ke tangan Robert Plot, yang bekerja di Oxford University. Karena kemiripannya dengan bagian tertentu dari anatomi manusia, seorang ilmuwan bernama Richard Brookes menamainya Scrotum Humanum tak lama setelah penemuan itu.
Berdasarkan lokasi penemuannya, fosil yang dideskripsikan Plot diyakini mungkin berasal dari Megalosaurus, mengingat banyak fosil lain ditemukan di lokasi yang sama pada masa-masa berikutnya. Sayangnya, menurut Nicholls, tidak ada yang mengetahui keberadaan fosil tersebut saat ini, sehingga tidak ada cara untuk memverifikasinya.
Baca Juga: Sebagai Dinosaurus Terbesar, Bagaimana Cara Sauropoda Berjalan?